Hidup dari Barang Rongsokan

Pesawat pun Dibeli

MALANG – Nama aslinya Sayudi. Namun, pria asal Sampang, Madura, ini mengubah namanya ketika pertama naik haji tahun 1990 menjadi Abdul Hamid.

Hingga kini, sudah enam kali Abdul Hamid menunaikan rukun Islam kelima itu. Istrinya, Siti Aisyah, bahkan melampaui rekor sang suami. Aisyah naik haji sebanyak sepuluh kali.

Tak perlu heran. Abdul Hamid memang kaya-raya. Dia salah satu pengusaha sukses di Malang dalam bisnis besi tua. Bisnis barang rongsokan itu digeluti Hamid sejak tahun 1969. Berarti, hampir 40 tahun dia berkecimpung di bisnis itu.

Hasil jerih payah tersebut bukan hanya berkali-kali naik haji. Cucuran keringat Hamid juga menghasilkan beberapa rumah mewah. Dua di antaranya berada di Jl Kolonel Sugiono 42. Sehari-sehari, Hamid dan Aisyah banyak menghabiskan waktu di rumah dekat Terminal Gadang itu.

Rumah mewah itu masing-masing berlantai dua. Jika ada pemandangan yang “mengganggu”, itu adalah besi tua yang menumpuk seperti mau menimbun bangunan rumah. Besi-besi tua itu menghuni halaman di antara dua rumah serta gudang belakang. Lantai bawah rumah sebelah selatan juga difungsikan sebagai gudang besi.

Rongsokan besi tua apa saja ada di situ. Ada jangkar kapal, pagar yang sudah rusak, kawat, lempengan pelat baja, besi bekas bangunan, sampai kendaraan bekas. Ada juga tembaga, alumuniun, dan timah. Di depan rumah, tepatnya di pinggir jalan raya, tangki-tangki bekas teronggok. Tidak ditemukan kardus bekas, plastik, atau kertas bekas karena Hamid mengkhususkan bisnisnya untuk besi tua dan logam lainnya. Di rumah itu, pria kelahiran 1928 (Hamid mengaku lupa tanggal dan bulan lahirnya) menjalankan roda bisnis di bawah bendera UD Logam Mandiri.

Luas tanah milik Hamid itu kurang lebih dua ribu meter persegi. Sebagai akses tengah Kota Malang yang menghubungkan jalur Surabaya-Blitar, nilai jual tanah di kawasan tersebut mencapai Rp 2,5 juta per meter persegi. Bila dinominalkan, nilainya sekitar Rp 5 miliar.

Selain dua rumah itu, Hamid masih memiliki tiga rumah dan tanah yang ukurannya hampir sama dengan rumah di Gadang. Lokasinya di Cigaran dan Ciptomulyo. Di samping itu, dia juga mempunyai mobil pribadi Isuzu Panther. Tinggal Panther itu alat transportasi Hamid dalam berbisnis setelah enam mobil lainnya dia jual karena tak ingin boros.

Semua kekayaan yang dinikmati tak didapatkan Hamid dengan mudah. “Semuanya berawal dari nol. Saya mendapatkan ini semua karena kerja keras, keuletan, dan kejujuran. Juga doa tiada henti kepada Allah,” tutur kakek berusia 80 tahun ini.

Pertama tiba di Malang pada 1962, Hamid tak membawa apa pun kecuali baju yang melekat di tubuh dan uang yang jumlahnya tak seberapa. Tanpa tujuan pasti selain niat bekerja, Hamid lalu mengelilingi kota dengan berjalan kaki. Sengaja dia tidak naik kendaraan umum karena uangnya tidak cukup. Jangankan untuk ongkos, buat makan pun tidak cukup. “Saya tiba di Malang dengan selamat saja sudah untung karena uang saya tidak cukup untuk ongkos kereta. Alhamdulillah petugas kereta tidak menarik ongkos. Nggak tahu kok saya tidak ditarik (ongkos),” ujarnya.

Menyusuri jalanan Malang, yang bikin tidak tenang Hamid justru mulutnya yang pahit karena tidak merokok. Maklum dia perokok sejak remaja. Karena tidak tahan, dia terpaksa memungut utis (puntung rokok) yang ditemukannya di jalan. Utis itu ia isap kembali.

Hamid ingin melihat kondisi kota untuk memastikan usaha apa yang akan dilakukannya. Usaha pertama Hamid adalah jualan pisang. Ketika musim pisang berlalu, ia ganti berjualan salak dan buah-buah lainnya. Hamid menjajakan dagangannya dengan cara dipikul dan berjalan kaki.

Namun, usaha itu gagal. Hamid pun banting setir bekerja di sebuah perusahaan material bangunan. Karena sifatnya yang jujur, setelah bekerja kurang lebih 1,5 tahun, Hamid dipinjami pikap oleh juragannya. Sejak itulah, dia berusaha menekuni bisnis besi tua. Apalagi, di Surabaya, dia pernah bekerja kepada juragan besi tua yang sukses. Jadi, usaha jual beli besi tua bukan hal yang benar-benar baru bagi Hamid.

Demi hidup, dia tidak gengsi blusukan mencari besi tua. Sering perburuan besi tua itu dilakukan dengan jalan kaki. Jika barang sudah menumpuk, Hamid pinjam pikap juragannya untuk menjual besi tua tersebut.

Berkat besi tua, ekonominya kian lama kian membaik. Ketika dirasa bekalnya cukup, Hamid mulai merintis usaha sendiri. Dia lepas dari juragannya. Hamid yang ketika itu berusia 40 tahun juga berani menyunting gadis pujaannya, Siti Aisyah, yang setia mendampinginya hingga sekarang.

Berbisnis besi tua bukan berarti tak luput dari masalah. Beberapa kali Hamid harus pindah gudang karena kontrakannya tak diperpanjang. Dia juga sempat menumpang di tanah milik PT KAI (Kereta Api Indonesia) di daerah Comboran selama tiga tahun. Setelah itu, pindah ke Jl Perusahaan.

Gudang yang sekaligus dijadikan tempat tinggal tersebut sangat sederhana. Hanya beratap seng dan beralas tanah. “Kalau hujan, ya kebanjiran. Saya beberapa kali gagal. Setelah menemukan kontrakan di Gadang, usaha mulai membaik. Hingga akhirnya seperti ini,” ungkap pria beranak tiga tersebut.

Menurut dia, bisnis besi tua dan barang bekas pada awalnya dianggap bisnis yang memalukan. Banyak orang yang gengsi menerjuninya. Namun, bagi Hamid, peluang itu justru ditangkap dengan baik. Saat orang enggan melakukannya, berarti tambah sedikit pesaing. “Saya tak pernah mengenal kata gengsi atau malu. Yang penting halal dan dapat uang. Yang penting bisa menafkahi keluarga. Itu yang ada di benak saya,” ucap Hamid.

Tak hanya besi-besi tua di Malang yang dikejar Hamid. Luar kota pun dia rambah. Akhir 1980-an, Hamid pernah memborong rongsokan pesawat terbang di Lanud (Lapangan Udara) Iswahyudi, Magetan. Nilai transaksinya ketika itu mencapai Rp 400 juta. Dia ingat dolar kala itu masih sekitar seribu rupiah. “Saya juga pernah membeli rongsokan kapal terbang di Lanud Abdulrahman Saleh. Nilainya juga ratusan juta rupiah,” ujarnya.

Hamid menyatakan, sama dengan hukum bisnis lainnya, pelaku juga harus jeli melihat peluang keuntungan dalam jual beli besi tua. Ketika harga jual ke pabrik tinggi, banyak barang yang dikirim. Sebaliknya, kalau harga pabrik turun, bahkan di bawah harga beli dari pengecer, barang ditahan dulu. Menunggu sampai harga kembali membaik.

Sejumlah kota yang punya pabrik besi menjadi tujuan besi tua Hamid. Sebut saja Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, atau Malang sendiri. (fir/yn)

About these ads

11 Tanggapan

  1. setelah saya baca artikelnya,
    buat admin saya mau tanya nie
    bisa kasi info tentang jual beli barang rongsokan
    gmana cara memulainya
    alamat pengepulnya
    kbetulan saya brada d bali

    trim’s

  2. =)

  3. Wah hebat banget saya juga pengen tahu alamat pengepul besi tua dan bagaimana caranya?

  4. saya ada di bali
    kasi info donk tentang jual beli rongsokan
    cara mulai dan tempat untuk menyalurkan barangnya
    terimakasih

  5. saya mau menekuni itu tapi bagai mana memulainya?

  6. Minta alamat dan No Telp atau Hp juga jika ada emailnya

  7. salut untuk pak hamid atas kerja kerasnya yg berbuah manis..kbtln sy sedang merintis usaha yg sejenis.,namun ditempat sy tinggal usaha ini menjamur lbh dari 50 lapak rngskn ada di sekitar tempat sy tinggal… tapi alhamdulilah msh bisa makan….intinya memang urusan rejeki bukan manusia yg atur…

  8. duh.. jd pengen pulang ke malang…. pk.H.hamid pnya prinsip dasar yg kuat… jujur, no gengsi., hemat…. nasib baik…, suku madura di kenal ulet dlm berusaha.. … smoga saya juga bisa sukses ……………….Amien…

  9. usaha apapun yang penting halal….

  10. apakah di tempat bpk bisa menerima besi tua dalam jumlah sedikit ? terimakasih

  11. semoga sukses dan lancar dalam menjalankan usahanya. kami menyediakan juga informasi untuk keamanan usaha anda dari bahaya kebakaran.

    Terima kasih untuk informasi lebih lanjut silahkan MELIHAT : http://www.randallhart.com/,
    tlp:031 853 8830,
    e-mail : randallhart9@gmail.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: