Merekam Derita Darma Ayu Kusuma, Bayi Hidung Bolong di RSSA Malang

Senyum Manis Itu Terganjal Lubang Menganga
Akibat sang ibu kena muntaber saat empat bulan dalam kandungan, bayi perempuan Darma Ayu Kusuma mengalami kelainan di wajahnya (facial cleft). Hidung bayi 5 bulan ini bolong karena cuping hidung naik ke atas. Mata kirinya juga buta. Senin (12/11) Ayu menjalani operasi di RSSA Malang.

Yulianti-Bambang Tri
—-

Gelak tawa renyah Darma Ayu Kusuma terlihat menggemaskan ketika digoda oleh beberapa suster di Ruang 15 Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA). “Ayu….Ayu,….mana senyumnya, ciluk ba..…,” ujar Sucipto, kepala ruangan 15 menyapa Ayu yang baru masuk di ruang rawat inap khusus bedah anak-anak itu. Ayu pun langsung tersenyum.

Sayang, senyum di bibirnya terganggu oleh bentuk hidung yang terbuka menganga. Bayi mungil kelahiran Malang, 22 Mei 2007 ini memiliki hidung dengan cuping naik ke atas sampai sekat hidung. Terlihat dari wajahnya sepintas ada lubang yang tidak tertutup cuping.

Tak hanya hidung, kelopak mata kirinya juga tidak sempurna. Terlihat pupil matanya berwarna abu-abu bercampur dengan bagian bola mata putih. Mata kirinya buta.

Memang kondisi Ayu secara fisik sangat sehat dengan badan yang montok tak kurang suatu apapun. “Anak pertama saya memang sudah demikian sejak lahir procot. Kaget, begitu pertama kali melihat bentuk hidung dan mata kirinya buta. Tapi, bagaimana lagi saya tidak bisa menolak kehendak Tuhan,” ujar Endrawati, ibu Ayu saat ditemui kemarin.

Wanita 19 tahun warga Desa Slampar Rejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini mengaku selama hamil pernah kena muntaber pada usia kandungan empat bulan. Saat menderita muntaber, dirinya tidak bisa makan banyak dan selalu muntah disusul berak. Namun Endrawati sama sekali tidak memeriksakan diri ke dokter dan hanya berdiam diri di rumah.

Dia pun hanya bisa pasrah begitu Ayu lahir dengan kondisi tidak sempurna. Endrawati bersama suaminya Ngatari, 27, pun hanya menunggu nasib. Sebelumnya, dia hanya memeriksakan anak semata wayangnya itu ke puskesmas desanya. Namun oleh pihak puskesmas, Ayu dirujuk ke RSSA.

“Saya juga dibantu PKK dan Dharma Wanita kecamatan dan kabupaten hingga sampai di RSSA. Kalau urusan operasi, kami sekeluarga jelas tidak mampu. Suami saya tidak punya pekerjaan tetap, hanya tukang batu. Kalau bantuan peralatan dari PKK dan biaya operasi dari Askeskin,” tutur wanita muda ini.

Keseharian Ayu kala itu tidak pernah mendapatkan pengobatan apa-apa selain perlindungan selimut untuk menutupi wajah agar tidak kemasukan debu atau kotoran. Ini selalu dilakukan setiap kali keluar rumah.

Menurut dokter spesialis bedah kosmetik, plastik, dan rekonstruksi RSSA dr Herman Joseph LW SpBP, kelainan bawaan itu merupakan kategori defect (facial cleft) atau celah pada wajah sehingga wajah seperti monster. Celah itu bisa mengenai pipi, garis tengah, sekeliling mata, atau telinga.

Dalam kasus ini pasien Ayu mengalami kelainan pada hidung dan mata. “Kejadian facial cleft ini terjadi karena gangguan pertumbuhan pada masa kehamilan,” jelas Herman.

Senin kemarin (12/11), Ayu mendapatkan penanganan langsung dari tim dokter bedah kosmetik rekonstruksi dan plastik Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Tim ini diketuai langsung dr Herman Joseph LW SpBP. Operasi tersebut, merupakan operasi tahap pertama, pemasangan tissue expander tepat di atas dahi Ayu.

Alat ini dipakai membuat bakal hidung dan kelopak mata kiri. Tissue dipasang di dahi sehingga bentuknya menonjol di dahi atas mirip Star Trex. Selama tiga minggu pasca-operasi, bayi Ayu disuntikkan cairan dimasukkan ke dalam tissue agar menyatu dengan kulit.

Tiga hari setelah operasi kemarin, Ayu tampak terserang flu. “Kata dokter, ini adalah masa penyesuaian Ayu dengan kondisi barunya. Katanya dokter, tiga minggu lagi akan menjalani operasi tahap berikutnya, yakni membuat hidung dan kelopak mata,” kata Ngatari, ayah Ayu.

Setelah kondisi tissue expander menyatu dengan kulit, tissue itu nantinya sebagai bahan untuk membuat hidung dasar. Sel arsitektur pada hidung juga akan dibuatkan. “Kami berusaha membuatkan hidung, agar kondisi pasien lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja tidak sesempurna buatan Tuhan,” tandas Herman.

Tak hanya hidung saja yang dibuat, untuk mendapatkan penampakan wajah yang lebih baik, kelopak mata kiri tetap dibuat meski matanya sudah buta. “Agar penampilan pasien lebih baik,” ujarnya. Selain itu, pentingnya pembuatan kelopak mata ini diharapkan agar mata kiri bayi juga sedikit terlindungi dari benda asing.

Pasca-pemasangan tissue expander ini, lanjut Herman, pasien akan dibuatkan hidung rekonstruksi. Setelah dilakukan rekonstruksi hidung, pasien memiliki rongga hidung baru dengan lubang yang tidak biasanya. Selama memiliki rongga hidung baru, Ayu diupayakan terhindar dari infeksi saluran pernapasan. Kekebalan tubuh juga harus dijaga. “Kalau kondisi Ayu saat ini dalam keadaan sehat, dia bisa cepat adaptasi terhadap perubahan,” katanya.

Setelah cuping hidung dibuat, tim dokter akan mempersiapkan bedah plastik untuk membuat sekat rongga hidung. Sebelumnya, bayi ini tidak memilikinya. Setelah ada sekat hidung dengan dua lubang, baru kondisi hidung bisa difungsikan sebagaimana hidung manusia normal.

“Selama perawatan ini, Ayu harus menjalani rawat inap di RSSA. Karenanya setiap perubahan yang terjadi pada pasien harus dipantau,” ujar Herman.

Kasus yang terjadi pada Ayu ini, sambung Herman, merupakan kasus yang jarang terjadi. Jika menimpa pada siapa saja, harus sedini mungkin diperiksakan ke dokter. Karena, bila terlalu lama tidak segera ditangani bisa menyebabkan kematian karena salah penanganan perawatan. Jika tidak segera ditangani, bayi Ayu bisa terkena gangguan pada saat sedang minum susu.

Karena itu dia berpesan pada para orang tua yang memiliki anak bayi yang baru lahir dengan kecacatan wajah, harus segera tanggap. Tidak usah menunggu bayi besar, harus secepat mungkin mendapatkan penanganan dokter. Semakin dini semakin baik. Tidak seperti kasus Ayu ini, pasien datang dalam keadaan terlambat dalam keadaan mata kiri sudah buta. Seharusnya, bisa dicegah jika ditangani sejak dini. “Kasus-kasus semacam ini, RSSA siap menanganinya,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Dana Kesehatan PKK Kabupaten Malang Dyah Betjik Soedjarwoko, akan membantu sepenuhnya perawatan Ayu. Tim PKK Kabupaten Malang siap mengawal perjalanan perawatan Ayu hingga sembuh. Sedang anggaran untuk membantu perawatan tersebut akan diambilkan dari donatur yang sebagian besar dari pejabat di lingkungan Pemkab Malang.

“Kemarin, kami sudah lihat kondisinya. Kami juga sudah membelikan alat tissue expander, untuk pembuatan hidung baru,” kata Dyah kemarin.

Kepedulian penggerak PKK ini memang sudah menjadi komitmen mereka sejak awal. Setelah mengetahui ada warga kabupaten yang mengalami kelainan, mereka mengonsultasikan ke dinas terkait. Dari konsultasi tersebut, ditindaklanjuti dengan membawa Ayu ke RSSA Malang.

Di samping kondisi kelainannya, kondisi keluarga Ayu yang serba kekurangan juga salah satu faktor keinginan mereka cepat menangani kasus ini. “Kami juga sudah berkunjung ke rumahnya. Kami trenyuh dan bertekad untuk membantu Darma,” urai wanita yang juga wakil ketua penggerak PKK kabupaten ini.

Untuk awal operasi kemarin, dana kesehatan telah mengeluarkan anggaran sebesar Rp 5 juta. Tiga minggu berikutnya, dana kesehatan juga akan mengeluarkan anggaran sebesar Rp 5 juta yang juga digunakan untuk pembelian tissue expander.

Secara bertahap sesuai kebutuhan, Dyah akan terus memberikan bantuan hingga Ayu sampai kondisi hidungnya terbentuk. “Kami juga membantu nutrisi untuk Ayu. Karena pasokan gizi sebelum dan sesudah operasi sangat dibutuhkan,” ungkap Dyah.

Wanita yang juga ketua Dharma Wanita Kabupaten Malang ini juga minta keluarga untuk tabah dan sabar. Pihaknya akan terus memantau perkembangan Ayu hingga sembuh. Karena dengan kesabaran dan ketabahan, akan muncul keyakinan bahwa Ayu akan segera sembuh dan segera kembali di lingkunganya. “Kami yakin Ayu bisa ditangani optimal oleh RSSA,” terang Dyah.(jawapos)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: