Tambang Kabupaten yang Malang

MALANG – Wilayah Kabupaten Malang yang mencapai 4.778,37 kilometer persegi menyimpan potensi tambang yang begitu besar. Namun sayang besarnya potensi tambang itu belum digali secara maksimal.Data di Dinas Lingkungan Hidup, Energi, dan Sumberdaya Mineral (LH-ESDM) Pemkab Malang menyebutkan, di wilayah kabupaten banyak tambang golongan C. Tambang golongan ini di antaranya, pasir dan batu (sirtu), piropilit, batu gamping, bentonit, kaolin, toseki, andesit, kalsit, pasir kursa, tras, dan zeolit.

Barang-barang tambang tersebut tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Dari bahan galian tersebut baru sebagian yang sudah ditambang sesuai izin yang masuk ke dinas LH-ESDM.

Dinas ini juga memprediksi, selain tambang golongan C, masih ada jenis tambang lainnya. Sayangnya dinas ini masih kesulitan anggaran melakukan identifikasi bahan galian yang terkandung di tanah kabupaten.

Pemkab hanya melakukan penggolongan bahan tambang setelah PP 27/1980 mengenai penggolongan tambang keluar. Hingga kini pemkab pun terus melakukan pendataan jenis tambang yang ada di wilayahnya. Pendataan itu misalnya soal pendataan bahan galian golongan A (strategis), B (vital), dan C (tambang yang tidak termasuk A dan B).

Dari penggolongan jenis bahan galian tersebut di kabupaten banyak dijumpai bahan galian dengan golongan C. “Bahan galian golongan C itu mudah diidentifikasi karena berada di antara gunung dan bukit,” terang Subandiyah, kepala Dinas LH-ESDM Kabupaten Malang kemarin.

Soal penggalian data tambang selain golongan C, Subandiyah mengaku masih ada potensi. Namun dinasnya belum bisa mengungkap karena terbentur anggaran penelitian.

Hingga kini, tambang yang sudah digali berada di kawasan pegunungan dan perbukitan. Di antaranya di kawasan Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Singosari, Wajak, Karangploso, Donomulyo, dan Kalipare. Selain sirtu di wilayah tersebut juga teridentifikasi berbagai bahan galian yang potensial menambah PAD (pendapatan asli daerah) kabupaten. Di antaranya, emas, bentonit, kaolin, dan lain-lain.

Namun hingga sekarang potensi tambang itu belum digali. Belum ada investor yang masuk untuk menambang bahan galian yang sudah teridentifikasi tersebut. “Kami memang masih belum bisa mengetahui jumlah kandungannya,” aku Subandiah.

Hingga September 2007 ini, dinas LH-ESDM mencatat ada 200 lokasi tambang yang memiliki izin. Sedangkan 49 lokasi lainnya mendapat pembinaan karena tidak memperhatikan dampak lingkungan. Bahkan di antaranya mendapat surat peringatan dan dihentikan aktivitasnya.

“Kalau masih mau menambang dengan benar, mereka tetap kami bina. Kalau tidak, kami menutup langsung tambang tersebut sesuai dengan peraturan pemerintah,” urai Sumbadiyah.

Pada 2007 ini saja, dinas ini telah menghentikan aktivitas penambangan di beberapa lokasi. Di antaranya, Kecamatan Karangploso ada tiga lokasi, Jabung (1 lokasi), dan Singosari (2 lokasi). Selain tidak berizin, mereka juga tidak memperhatikan dampak lingkungan dan cara menambang yang baik.

Seperti halnya di dua titik penambangan di Desa Toyomerto, Singosari. Para penambang tidak mengunakan sistem terasiring dan pengupasan. Di samping itu, pemilik tambang juga tidak memperhatikan keselamatan jiwa para pekerjanya. “Walau sudah ada izin tetapi tidak memperhitungkan keselamatan pekerja dan lingkungan, maka kami tutup pertambanganya,” aku Subandiah.

Dampak dari aksi penambangan liar tersebut di antaranya, longsor dan banjir. Seperti halnya aksi penambangan sirtu di Toyomerto. Mereka tidak mempertimbang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: