Melihat Aktivitas Belajar Samisu Anak-Anak Jalanan di Alun-Alun Merdeka

Mengaji di Bawah Pohon, Mewarna di Trotoar
Bagi kebanyakan anak, kesempatan belajar dan bermain sepertinya tak dibatasi. Namun bagi anak-anak jalanan (anjal), belajar dan bermain secara normal bisa jadi hanya impian. Untungnya, kesempatan itu kini sedikit terbuka setelah sejumlah mahasiswa dan masyarakat membina mereka dalam belajar Samisu (Selasa, Kamis, dan Sabtu).

Yosi Arbianto

Sabtu (17/11) sore, area Alun-Alun Merdeka Kota Malang tidak diguyur hujan. Awan abu-abu hanya bergelayut, membentuk lukisan alam dengan latar langit yang berubah jingga. Sekitar pukul 16.30, kawasan pusat kota ini mulai dipenuhi pengunjung. Muda-mudi berpasangan, orang tua bermain dengan anaknya, dan pedagang asongan yang sibuk menjajakan dagangannya.

Keceriaan malam minggu itu tak hanya milik masyarakat biasa. Di sisi selatan alun-alun yang berhadapan persis dengan Kantor Pos Besar Malang (KPBM), sekitar 15 anak jalanan (anjal) tengah ceria berkumpul dengan rekan-rekannya. Mereka bermain, bergembira ria, dan yang menggembirakan; mereka sedang belajar.

Di bawah pohon beringin, beberapa di antara mereka terlihat menulis. Ada juga yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan guru mereka di sekolah umum. Di bangku beton, ada yang belajar mengaji. Ada juga yang mengeja kata-kata dalam bahasa Inggris. “Za A Sya, A Ba Ta,” eja Yuni, 12, membaca halaman ke-15 buku Iqro’ (cara cepat membaca A Quran) karangan KH As’ad Hanan.

Sedang di dekat pagar, juga di bawah pohon beringin, ada bocah yang tengah mewarna. Di sebelahnya ada yang menggambar atau berhitung.

Bocah-bocah yang berusia 5-12 tahun itu, ketika ada yang usil, sesekali berteriak kepada sesamanya. Saat menanggapi keusilan rekannya, ekspresi kekanak-kanakan seakan kembali “hinggap” di jiwa mereka. Maklum, di usia yang masih belia, ekspresi itu terkikis. Waktu bermain dan belajar mereka tersita. Rata-rata karena tekanan ekonomi. Mereka harus bergulat di jalanan mencari uang membantu orang tua. Atau, beberapa anak sekadar mencari uang jajan dan uang untuk memenuhi hasrat membeli mainan dan memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan.

Begitu ada relawan yang membawa makanan, kumpulan anak-anak itu bubar sesaat. Pembina mereka harus dibuat repot membagi rata makanan sekadarnya hasil sumbangan seseorang. “Hayo, hayo Yuni jangan lari-lari. Sudah ngaji dulu,” seru Ulfiatka Ariarti, salah seorang guru mengaji dari LSM Griya Baca yang membimbing anjal alun-alun tersebut.

Sabtu adalah hari terakhir para anjal sekolah lapangan. Minggu dan Senin, mereka bebas menelusuri jalanan dan seputar alun-alun untuk mencari rupiah. Selasa, mereka akan kembali mendapatkan bimbingan gratis oleh para pembinanya di lokasi yang sama. Jadwal sekolah alam itu adalah Selasa, Kamis dan Sabtu. “Setelah ini, ya mereka kerja lagi. Kebanyakan mengamen,” ungkap Tri Mulyono, salah seorang pembimbing.

Siti Yulaikah, salah seorang dari anjal mengaku senang dengan adanya sekolah lapangan tersebut. Dia merasa punya kesempatan untuk mengingat kembali pelajaran di sekolahnya. Lebih dari itu, dia juga bisa mendapatkan ilmu lain, misalnya mengaji dan bahasa Arab. “Senang. Temannya banyak,” ungkap siswi sebuah SDN di kawasan Sukun ini.

Suparmi, ibunda Yuli mengaku, anaknya harus menghadapi kenyataan seperti itu karena dipaksa kondisi ekonomi. Suaminya bekerja serabutan. Sedangkan dia harus minta-minta karena bangkrut berjualan nasi di alun-alun.

Suparmi memperbolehkan anaknya belajar di alun-alun 1,5 jam bersama rekan-rekannya agar kelak anaknya bisa bernasib lebih baik. Dia juga menjaga agar anaknya tetap bersekolah. “Masio aku ngemis Mas, pengene anak yo luwih apik nasipe. Makane kudu sekolah (Meski saya mengemis, inginnya anak bisa bernasib lebih baik. Makanya harus sekolah),” ujar Suparmi.

Terkait dengan penyadaran para anjal untuk tetap belajar di sela kesibukan mereka mencari nafkah, Mulyono, pembimbing mereka mengatakan, mengajak para anjal belajar bukan pekerjaan mudah. Dalam waktu setahun ini, kegiatan belajar bersama itu baru menampakkan hasilnya. Tahun-tahun sebelumnya, program yang dia rintis bersama beberapa elemen itu hanya sedikit pengikutnya.

“Sekarang anggota kami sudah 60-an anak. Sejumlah 30 anak yang masih bersekolah. Kami hanya berupaya menambah bekal mereka. Agar tak selamanya mereka ada di jalanan,” ungkap Mulyono.

Mengumpulkan anak-anak tersebut, lanjut Mulyono, bukan pekerjaan mudah. Awalnya dia dan para mahasiswa dari Griya Baca harus membujuk dengan materi. Selanjutnya dengan pendekatan kepada orang tua. Dengan modal kesabaran, akhirnya satu persatu anjal alun-alun ikut dalam kelompok belajar tersebut. “Sekarang mereka sudah sadar bahwa kami hanya menambah bekal mereka agar memerak jadi lebih baik,” ujar Mulyono.

Faizun, salah seorang mahasiswa pembina mengatakan, Griya Baca berawal dari kepedulian mahasiswa akan nasib para anjal. Dengan modal seadanya dan tanpa donatur tetap, setahun lalu mereka mulai turun memberikan tambahan bekal bagi para anjal.

Mereka membawa apapun yang kiranya menarik bagi anjal. Ada buku cerita, ada mainan anak, ada buku gambar, dan ada ilmu yang dipunyai para mahasiswa. “Kami hanya ingin mengembalikan sedikit masa kanak-kanak mereka. Sekaligus memberi tambahan bekal untuk masa depan mereka. Sementara hanya itu yang bisa kami berikan,” ungkap divisi pembinaan Griya Baca ini.(jawapos)

8 Tanggapan

  1. TINGKATKAN TERUSPENDIDIKAN ANJAL

  2. Malang Sudah sangat sangat Phuadheett dheet dhett, mbok yaoo digusur gusurin ajaaaa

  3. hmm….^_^….

    aq pgen gabunGan jd mahasiSwa pembna…
    gMana cAranYA?????

    thAnx

  4. mau doang gabung utk jd pengajarnya, tp domisiliku di jkt,gmn ya ada ga di jkt?????

  5. MAU DOANK IKUTAN BUT DOMISILIKU DI JKT

  6. aku mau gabung….insy selasa dateng di alun2 kota….tunggu sy mb nurul….hehe

  7. Pengen GaBung asaL Malang.
    Tp Bingung Gmn Caranya…
    Tolong bantuan nya.

  8. aku mau gabung… caranya gimana ya? boleh minta contact personnya? biar lebih gampang.. tlg krim ke email saya
    de.rebel09@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: