Melihat Ketabahan Karimun dan Sarti Merawat Dua Anaknya yang Cacat

Demi Kasih Sayang Rela Rantai Anak 22 Tahun
Menjadi orang tua memang tidak mudah. Apalagi jika memiliki anak yang lahir dalam kondisi tidak sempurna. Seperti halnya yang dialami pasangan suami istri Kasimun dan Sarti. Di usia senjanya, mereka masih harus berjuang hidup dan menghidupi dua anaknya yang cacat serta saudara yang sakit menahun.

Ahmad Yahya

“Nggoleki sopo (mencari siapa, Red)?” kata seorang anak muda yang menerima kedatangan koran ini. Pria dengan tatapan tajam dan kurang bersahabat itu terus memandang kehadiran Radar dari tempat duduknya. “Apa benar ini rumahnya Agus,” kata saya menjawab pertanyaan dia.

Masih di posisi semula, pria yang kemudian diketahui bernama Hadi Ahmad itu mengangguk. “Iyo, ono opo (iya ada apa)?” katanya. “Mak, ono sing nggoleki Agus (Bu, ada yang mencari Agus),” kata dia dengan berteriak sambil meninggalkan Radar.

Lelaki ini tidak berjalan seperti laiknya anak muda pada umumnya. Dia berjalan dengan bertumpu pada kedua kaki dan tangannya. Sejurus kemudian, seorang ibu muncul dari balik pintu. Setelah mendengar maksud kedatangan Radar, wanita yang diketahui bernama Sarti itu pun lantas mempersilakan masuk.

Di rumah itulah pasangan Kasimun dan Sarti tinggal. Rumah kecil di Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, itu selain dihuni pasangan suami istri (pasutri) ini, juga menjadi tempat tinggal dua anak mereka yang cacat. Mereka adalah Agus Hariadi, 32, yang mengidap sakit jiwa dan harus dirantai kedua tangan serta kakinya. Dan kedua adalah Hadi Ahmad, 16, yang mengalami cacat fisik dan tidak normal. Selain itu ada Sumi, kakak perempuan Kasimun yang mengidap penyakit kulit.

Dengan sabar Sarti minta Hadi menemani dirinya. “Ngapunten, suaranya memang agak keras dan kadang-kadang juga kurang jelas,” kata Sarti seolah mengerti kegundahan hati tamunya.

Dari perbincangan singkat siang itu diketahui bahwa Hadi adalah anak keduanya. Dia memiliki seorang kakak bernama Agus Hariadi. Hari itu, Sarti hanya bersama dua anaknya dan Sumi. Sedang suaminya sedang berada di luar rumah menggembala kambing.

Sarti menceritakan, Hadi memang lahir dalam kondisi yang kurang sempurna. Dia lahir dengan cacat bawaan. Sejak kecil dia tidak bisa berjalan normal seperti orang pada umumnya. Kedua kakinya memiliki ukuran kecil. Baru sekitar dua tahun ini, Hadi yang suka mengenakan topi itu bisa berdiri tegak dan berjalan meski masih sempoyongan.

“Alhamdulillah sekarang Hadi sudah lebih baik. Dulu, jalannya ngesot. Kalau mau keluar rumah ya menggunakan kursi roda,” kata wanita 47 tahun ini.

Karena kondisinya demikian, Hadi tidak bisa pergi jauh. Paling banter di tanah lapang depan rumahnya. Sehari-hari dia hanya mengawasi kambingnya yang sedang merumput. “Biasanya bergantian dengan bapaknya. Selain itu, tidak ke mana-mana lagi, paling-paling ya di rumah,” jelas dia.

Selain menggembala kambing, Hadi juga memiliki pekerjaan rumah (PR). Dia biasa membantu ibunya mengikat potongan sarung pantai pesanan tetangganya. Setiap hari, Hadi bisa menyelesaikan sepuluh helai selendang. Setiap helai ia menerima upah Rp 250. “Uangnya saya tabung untuk makan,” kata Hadi yang kini berusia 16 tahun.

Keterbatasan Hadi memang menimbulkan rasa trenyuh. Betapa tidak, di saat pemuda normal seusianya bisa menikmati indahnya hidup, ia tidak merasakannya. Apalagi, Hadi yang belum pernah mengenyam bangku sekolah itu juga tidak bisa baca dan tulis.

Meski demikian, menurut Sarti, keberadaan Hadi lebih beruntung dibandingkan dengan kakaknya, Agus Hariadi. Anak pertamanya itu saat ini berada dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Selain terlahir dalam kondisi tuna wicara, sekarang dia harus dikerangkeng.

Kedua tangan dan kakinya juga harus dirantai. Rantai sebesar jari kelingking orang dewasa itu mengikat Agus sejak 22 tahun silam ketika Agus masih berusia sepuluh tahun. “Kalau tidak (dirantai) malah membahayakan. Terkadang dia usil dengan orang lain. Kadang juga melempari rumah dan para pengguna jalan,” katanya.

Selain itu, kata Sarti, juga demi keamanan dan keselamatan anaknya. Karena jika tidak dirantai, dia khawatir anaknya pergi jauh dan tidak pulang. Apalagi rumahnya tepat berada di pinggir jalan raya.

Agus, kata Sarti, dalam kondisi seperti itu sejak dia berusia sepuluh tahun. Tepatnya, sejak dia terjatuh dari sepeda angin karena tertabrak kendaraan.

Menurut Sarti, akibat kecelakaan, emosi Agus sering tidak terkontrol. Kadang dia marah-marah dan melempari orang. “Pernah juga dia usil. Dia masuk selokan teriak seakan minta tolong. Begitu didatangi orang yang mau menolong malah disiram pakai air sungai,” katanya.

Karena kondisinya demikian, dia bersama suaminya mencarikan rantai untuk menjaga sang anak. Sebenarnya sebelum dirantai, dia bersama suaminya pernah mengirim anaknya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang untuk mendapatkan perawatan. Namun, kapan tepatnya dia lupa.

Bahkan, dia juga mengaku sudah dua kali menitipkan anaknya di rumah sakit pemerintah itu. Tapi, upaya itu tidak membuahkan hasil. “Malah menghabiskan uang. Dulu kami titipkan di situ, tapi bisa lepas dan dia juga bisa sampai rumah,” kata dia. “Kami takut, dari pada terulang lagi, dan anak kami hilang lebih baik kami rawat sendiri di rumah,” sambungnya.

Merawat Agus memang butuh banyak kesabaran dan pengorbanan. Apalagi Agus tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa melakukan sendiri kecuali makan. “Mulai dari pakai baju mandi sampai makan, selalu ngladeni (melayani),” urainya.

Karena kondisinya yang demikian itu, tidak setiap hari Agus mandi. Paling cepat, dia baru dimandikan setelah empat hari. Maklum, untuk memandikan borgol Agus harus dibuka terlebih dulu. “Kalau memandikan juga berdua dengan bapak. Saya sendiri tidak berani. Takut, kalau dia lepas. Belum lagi kalau dia sedang ngamuk.”

Kalau Agus sudah ngamuk, lanjut Sarti, tidak ada yang berani mendekat. Kalau sudah tidur juga tidak ada yang berani membangunkan. Kalau dibangunkan, dia malah marah dan berteriak-teriak. Entah apa yang diomongkan.

Alasan yang diungkapkan Sarti itu ada benarnya. Itu terbukti saat radar minta dipertemukan dengan Agus yang siang itu tertidur. Begitu dibangunkan, ujung jari Agus langsung menunjuk ke arah Radar dan menuding-nuding. Entah apa yang dia omongkan. “Saya sendiri takut. Kalau dia tidur saya tidak berani membangunkan. Biasanya dia bangun sendiri,” jelas Sarti.

Sarti meminta Radar kembali keesokan harinya. Barangkali Agus dalam keadaan lebih baik. Barulah keesokan harinya Radar bisa menemui Agus. Dengan bahasa yang tidak dipahami, dia melambaikan tangan sambil ngomong yang tidak bisa dimengerti.

Saat ditawari rokok, Agus berusaha menjawab dengan bahasa isyarat seakan menolak. Tidak lama kemudian dia tertawa dan menuding-nuding lagi. Entah apa lagi yang dia bicarakan.

Sarti memang tidak mengharapkan kondisi itu menimpa keluarganya. Namun, apa daya, semua itu menurut dia adalah amanat. Dia mengaku tidak pernah memikirkan bagaimana kelak. Dia hanya menjalaninya. “Kalau dipikir nggarai awak kuru, dilakoni opo onoe (mengakibatkan badan kurus, dijalani apa adanya saja),” katanya.

Beban berat di pundak pasangan suami istri itu tampaknya kian bertambah. Terlebih lagi kakak perempuan suaminya, Sumi, juga membutuhkan perhatian ekstra. Sejak dua tahun silam, wanita berusia 59 tahun itu sudah tidak bisa lagi beranjak dari kamar tidur. Sumi tidak lagi bisa berjalan setelah terpeleset dan jatuh di kamar mandi.(jawapos)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: