Pemilik Reklame Wajib Ikut Lestarikan Pohon

Tegas menerapkan aturan hukum menjadi solusi tepat untuk menekan jumlah pohon pelindung yang diracun (dimatikan). Terutama menyangkut pihak-pihak yang harus bertanggung jawab secara konkret atas keberadaan dan kelangsungan pohon di Kota Malang.

Kesimpulan itu yang mengemuka dalam dialog Penghijauan Antisipasi Perusakan Pohon Pelindung di Balai Kota Malang, kemarin. Bagaimana konkretnya kebijakan itu? Kadis Pertamanan Mardjono mengatakan, untuk memperjelas tanggungjawab dan keikutsertaan masyarakat, perlu diterbitkan perwakot. Perwakot tersebut sebagai penyeimbang atas makin kompleksnya masalah pelestarian pohon pelindung.

Selama ini, sambung dia, Perda 3/2003 tentang Pengelolaan Pertamanan dan Dekorasi Kota tidak memberikan penekanan yang jelas tentang siapa yang bertanggungjawab terhadap pohon yang dimatikan. Dinas pertamanan bertanggung jawab hanya pada pohon yang ditebang atau dipangkas.

“Kami tidak bisa menjaga semua pohon agar tidak diracun. Karena itu, semua pihak harus terlibat,” ungkap Mardjono.

Hadir dalam acara tersebut Wali Kota Peni Suparto, Kapolresta Malang AKBP Atang Heradi, Dandim 0833 Letkol Bahman, Putri Lingkungan Hijau, para kepala SKPD (satuan kerja perangkat daerah), camat, dan lurah.

Menurut Mardjono, makin kompleksnya masalah ditunjukkan oleh cara mematikan pohon. Kalau dulu pohon hanya dipotong dan ditebang, kini cara mematikan pohon dengan diracun. Pihak yang berkepentingan dengan matinya sebuah pohon juga makin kompleks. Kalau dulu mungkin hanya orang dengan motif iseng, saat ini ada motif bisnis, politik, dan merusak lingkungan.

“Berbagai elemen sepakat untuk pembenahan aturan main dahulu. Tanpa itu, polisi, TNI dan aparat kejaksaan sulit untuk menindak tegas,” ungkap Mardjono.

Siapa yang bakal diusulkan untuk ikut bertanggung jawab atas kelestarian pohon pelindung? Mardjono mengatakan, yang wajib bertanggung jawab atas kelestarian pohon pelindung secara langsung adalah dinas pertamanan, warga yang bermukim dekat lokasi pohon, warga yang beraktivitas rutin di sekitar pohon, biro iklan, dan pemasang papan reklame. Semua pihak itu dinilai yang paling berkepentingan.

“Mungkin nanti didetailkan di perwakot. Kalau ada pohon mati, berarti pihak-pihak itu ikut tanggungjawab,” katanya.

Sementara, jumlah pohon mati sedikitnya 150 pohon. Lokasinya tersebar di kota. Rata-rata pohon tersebut dimatikan oleh oknum tak bertanggung jawab. Untuk itu, pada 28 November nanti, semua elemen akan terjun untuk melakukan penanaman pohon di jalan protokol. Tiga jenis pohon yang akan ditanam adalah Glodokan lokal, Tanjung dan Soka.

Sementara, Kapolresta Malang AKBP Atang Heradi mengatakan sepakat dengan kejelasan aturan main tersebut. Sebab tanpa itu, maka polisi juga kesulitan. Polisi tidak mungkin menjaga satu per satu pohon pelindung yang jumlahnya ribuan. Apalagi modusnya meracun pohon dengan efek yang tidak langsung terlihat. “Kecuali pelaku tertangkap basah, lain ceritanya. Makanya aturan diperjelas dahulu,” ungkap Atang.

Menyikapi rencana melibatkan warga sekitar untuk ikut bertanggung jawab, Atang sepakat. Sebab logikanya, yang berkepentingan terhadap matinya pohon bukan orang jauh. “Yang dekat dengan pohon dilibatkan dahulu dalam tanggungjawab pelestarian,” ungkap Atang.(jawapos)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: