Kesadaran Budaya Lokal Sangat Rendah

KEPANJEN – Tingkat kesadaran pemuda Kabupaten Malang dalam menggunakan dan mempertahakan budaya lokal bisa dibilang minim. Karena minimnya kesadaran berbudaya lokal itulah, Pemkab Malang kesulitan untuk mencari pemuda berpotensi yang bisa diikutkan dalam pertukaran pemuda antarprovinsi.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang, jumlah pemuda ada 803.418 orang. Mereka yang masuk dalam daftar pemuda adalah penduduk berusia antara 18 sampai 35 tahun. Jumlah pemuda laki-laki adalah 408.209 orang dan perempuan 395.209. Sedangkan organisasi kepemudaan yang ada di kabupaten jumlahnya sekitar 23 organisasi.

Kepala Dispora Kabupaten Malang Bambang Ismudjoko menerangkan, saking sulitnya mencari pemuda yang sadar budaya lokal, instansinya kesulitan untuk menyeleksi. Dari 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang, dispora hanya mampu mendapatkan 10 pemuda yang sadar budaya. “Pemuda yang masuk seleksi haruslah pemuda yang mampu menampilkan ciri khas budaya Malangan. Misalnya bisa menari Malangan ataupun seni Malangan lainnya,” ucap Jokik, panggilan akrab Bambang Ismudjoko.

Dari 10 pemuda itu, akhirnya kabupaten bisa mengirimkan satu wakilnya. Yakni Bambang Triwinarko, warga Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Pakisaji. Saat ini, Triwinarko sedang berada di Bengkulu. Rencananya, dia berada di Pulau Sumatera hingga Juli mendatang. “Dia terpilih karena bisa membuat Topeng Malangan sekaligus mampu menarikannya,” lanjut pria berkumis tersebut.

Menurutnya, rendahnya kesadaran pemuda dalam berbudaya lokal karena minimnya perhatian dari pemkab. Di antaranya karena belum serasinya kebijakan pemuda yang dibuat pemkab, rendahnya akses dan kesempatan pendidikan yang didapatkan pemuda, serta rendahnya kemampuan kewirausahaan.

Jokik memisalkan, kebijakan pemkab saat ini sepertinya lebih memperhatikan pemuda yang bermasalah jika dibandingkan dengan pemuda yang berpotensi. Akibatnya, pemuda yang mempunyai bakat dan minat di bidang budaya lokal menghentikan minatnya di tengah jalan.

Guna meningkatkan minat pemuda terhadap budaya lokal, di masa mendatang dispora akan bersinergi dengan dinas lainnya. Terutama dengan dinas pendidikan serta dinas pariwisata dan budaya. Selain itu, dispora juga akan mengajak elemen masyarakat seperti Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM).

Jokik khawatir, jika kondisi kepekaan pemuda terhadap budaya dibiarkan, maka 5 tahun atau 10 tahun ke depan, budaya asli Malang akan tergerus oleh budaya luar. “Tak hanya itu, jumlah kriminalitas dan premanisme akan meningkat. Karenanya, pemuda perlu saluran positif untuk potensinya,” paparnya. (fir/abm)

2 Tanggapan

  1. pewarisan budaya dan keunggulan loka sangat mungkin diberikan melalui jalur pendidikan. perlu cara yang jitu, komprehensip untuk dapatnya memasukkan budaya dan keunggulan lokal ditampung dalam ktsp. dalam hal ini muatan lokal haruslah bahasa jawa dan ketrampilan.

  2. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: